TARAKAN – Tidak semua anak yang berhenti sekolah datang dengan sendirinya untuk mencari kesempatan belajar kembali. Sebagian bahkan belum mengetahui bahwa pendidikan masih bisa dilanjutkan melalui jalur kesetaraan. Kondisi inilah yang membuat Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Tarakan tidak hanya menunggu calon peserta didik datang mendaftar.
Melalui pendekatan langsung ke lingkungan masyarakat, SKB berupaya menemukan anak tidak sekolah (ATS) dengan melibatkan ketua rukun tetangga (RT). Pendataan dilakukan dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya untuk mengetahui warga yang pernah putus sekolah dan berpotensi kembali mengenyam pendidikan.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) SPNF SKB Kota Tarakan, Patmaria Krisnova Levryn mengatakan, ketua RT menjadi salah satu sumber informasi penting dalam proses penjangkauan. Sebab, perangkat lingkungan dinilai lebih mengetahui kondisi sosial dan pendidikan warganya.
“Ketika melaksanakan identifikasi peserta didik, kami yang turun langsung ke lapangan. Kami menyusuri RT-RT dan berkoordinasi dengan ketua RT untuk mengetahui apakah ada warga yang putus sekolah,” ujarnya.
Informasi yang diperoleh tidak berhenti pada pendataan. Petugas SKB kemudian mendatangi calon peserta didik untuk memberikan penjelasan mengenai program pendidikan kesetaraan yang tersedia. Pendekatan juga dilakukan kepada keluarga agar mereka memahami bahwa kesempatan melanjutkan pendidikan tetap terbuka meskipun sebelumnya sempat berhenti sekolah.
“Kalau memang ada, nanti kami datangi. Kami ajak dulu, kami jelaskan program yang ada di SKB, kemudian kami tawarkan apakah mereka bersedia melanjutkan pendidikan,” katanya.
Patmaria menyebut, pola jemput bola tersebut cukup intensif dilakukan ketika SKB mulai mengembangkan layanan pendidikan kesetaraan. Saat itu, keberadaan sekolah paket yang diselenggarakan pemerintah belum banyak diketahui masyarakat sehingga petugas perlu aktif memperkenalkan layanan sekaligus mencari calon peserta didik.
Seiring waktu, pola tersebut mulai berubah. SKB kini lebih banyak menerima warga yang datang secara mandiri untuk mencari informasi maupun mendaftarkan diri. Menurut Patmaria, kondisi itu tidak terlepas dari semakin dikenalnya keberadaan pendidikan kesetaraan negeri di Kota Tarakan.
“Akhir-akhir ini justru lebih banyak mereka yang datang sendiri. Mungkin masyarakat sudah tahu kalau di Tarakan ada sekolah paket yang negeri, jadi mereka langsung datang ke SKB,” ungkapnya.
Meski jumlah warga yang datang secara mandiri meningkat, upaya penjangkauan tetap diperlukan. Sebab, masih ada kemungkinan anak maupun warga yang putus sekolah belum mengetahui layanan pendidikan kesetaraan atau belum memiliki dorongan untuk kembali belajar.
Patmaria juga menyinggung data anak tidak sekolah di Tarakan yang sebelumnya pernah mencapai sekitar 4.000 orang. Data tersebut telah melalui proses verifikasi oleh pihak terkait dan menunjukkan penurunan. Namun, ia mengaku belum dapat memastikan jumlah terbaru setelah proses pendataan dilakukan.
“Data itu sudah mulai diverifikasi. Jumlahnya memang turun dibanding sebelumnya, meski saya tidak hafal angka pastinya,” jelasnya.
Menurutnya, penurunan data ATS perlu diikuti dengan upaya memastikan warga yang teridentifikasi benar-benar memperoleh akses pendidikan. Karena itu, koordinasi dengan ketua RT dan perangkat wilayah tetap menjadi bagian penting dalam menjangkau calon peserta didik yang belum terlayani.
SKB berharap masyarakat tidak menganggap putus sekolah sebagai akhir dari kesempatan memperoleh pendidikan. Melalui program kesetaraan, warga masih dapat melanjutkan pendidikan sesuai jenjang yang dibutuhkan.
“Selama masih ada warga yang belum bersekolah, kami akan terus turun ke lapangan dan berkoordinasi dengan RT. Harapannya mereka mengetahui bahwa masih ada kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikan melalui program kesetaraan,” tutupnya.
Tag
SKB Tarakan, SPNF SKB Tarakan, pendidikan kesetaraan, anak tidak sekolah, ATS, anak putus sekolah, sekolah paket, Patmaria Krisnova Levryn, Kota Tarakan
Teks Foto:
Kepala UPT SPNF SKB Kota Tarakan Patmaria Krisnova Levryn menjelaskan strategi penjangkauan anak tidak sekolah melalui koordinasi dengan ketua RT.
SKB Tarakan melibatkan ketua RT untuk mengidentifikasi warga yang putus sekolah dan berpotensi mengikuti pendidikan kesetaraan.
Petugas SKB Tarakan melakukan pendekatan langsung kepada calon peserta didik untuk memperkenalkan program pendidikan kesetaraan.
Pendataan di tingkat RT menjadi salah satu upaya SKB Tarakan menemukan anak tidak sekolah yang belum terjangkau layanan pendidikan.
Semakin banyak warga datang secara mandiri ke SKB Tarakan untuk mencari informasi dan mendaftar pendidikan kesetaraan.













